Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia bergulat dengan bangkitnya kelompok ekstremis yang mempromosikan ideologi radikal dan kekerasan. Salah satu kelompok yang menjadi terkenal adalah Laskar89, sebuah organisasi militan yang menganut interpretasi radikal terhadap Islam dan berupaya mendirikan kekhalifahan Islam di Indonesia.
Laskar89 didirikan pada tahun 2013 oleh Abu Bakar Ba’asyir, seorang ulama terkemuka Indonesia yang dikenal karena hubungannya dengan organisasi teroris seperti Jemaah Islamiyah. Nama kelompok ini diambil dari tahun 1989 yang dianggap sebagai titik balik sejarah radikalisme Islam di Indonesia. Sejak awal berdirinya, Laskar89 telah terlibat dalam sejumlah insiden kekerasan, termasuk penyerangan terhadap agama minoritas dan aparat keamanan.
Munculnya Laskar89 dan kelompok ekstremis lainnya di Indonesia dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu pendorong utama ekstremisme di negara ini adalah meningkatnya pengaruh ulama radikal yang menyampaikan pesan intoleransi dan kekerasan. Para ulama ini sering menyasar masyarakat marginal dan mengeksploitasi keluhan mereka untuk merekrut pengikut baru untuk mendukung perjuangan mereka.
Faktor lain yang berkontribusi terhadap munculnya ekstremisme di Indonesia adalah adanya kesenjangan sosial dan ekonomi yang menjadi lahan subur bagi radikalisasi. Banyak generasi muda di negara ini yang merasa terpinggirkan dan tidak terpengaruh, serta tertarik pada ideologi ekstremis sebagai cara untuk mengekspresikan rasa frustrasi dan kemarahan mereka.
Selain itu, menjamurnya media sosial dan platform online memudahkan kelompok ekstremis seperti Laskar89 menyebarkan pesannya dan merekrut anggota baru. Kelompok-kelompok ini sering menggunakan propaganda dan informasi yang salah untuk meradikalisasi individu yang rentan dan menghasut mereka untuk melakukan kekerasan.
Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah-langkah untuk melawan kebangkitan ekstremisme di negara ini, termasuk mengeluarkan undang-undang anti-terorisme dan melakukan operasi kontraterorisme. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil, dan kelompok ekstremis seperti Laskar89 terus menjadi ancaman signifikan terhadap stabilitas dan keamanan Indonesia.
Untuk memerangi ekstremisme di Indonesia secara efektif, penting bagi pemerintah untuk mengatasi akar penyebab radikalisasi, seperti kesenjangan sosial dan ekonomi, dan bekerja sama dengan masyarakat untuk mencegah penyebaran ideologi ekstremis. Penting juga bagi para pemimpin agama dan organisasi masyarakat sipil untuk mendorong toleransi dan dialog sebagai sarana untuk melawan pengaruh kelompok ekstremis seperti Laskar89.
Pada akhirnya, kebangkitan ekstremisme di Indonesia merupakan permasalahan yang kompleks dan memiliki banyak aspek yang memerlukan respons yang komprehensif dan terkoordinasi dari semua sektor masyarakat. Dengan mengatasi penyebab radikalisasi dan mendorong inklusivitas dan toleransi, Indonesia dapat mewujudkan masa depan yang bebas dari ancaman ekstremisme dan kekerasan.
